NASIONAL

DAERAH

DUNIA

Komite Mahasiswa dan Pelajar Kutamakmur Galang Dana Untuk Pengungsi Rohingnya

Aceh Utara,NEWSOBSERVASI: Komite Mahasiswa dan Pelajar Kutamakmur (KOMPAK) Kabupaten Aceh utara, menggalang dana untuk pengungsi Rohingya yang dipusatkan di Pusat Keude Buloh Blang Ara, Rabu (27/05/2015).
Sekjen KOMPAK, T Mustakim SE
Aksi penggalangan dana tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pengungsi Rohingya yang diusir dari negaranya sendiri. Sebab, pasca pengusiran, masa depan mereka semakin tidak jelas.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) KOMPAK, T Mustakim SE saat di jumpai oleh wartawan mengatakan, pihaknya mengecam tindakan Pemerintah Myanmar yang telah melakukan pelanggaran HAM dengan mengusir muslim Rohingya.
"Kami meminta Pemerintah Indonesia melakukan protes keras terhadap Pemerintah Myanmar," ucapnya.
Mustakim juga meminta Pemerintah Indonesia melakukan protes keras terhadap pemerintah Myanmar dengan menarik Duta Besarnya dari Myanmar.
"Warganya diusir oleh pihak-pihak yang kami anggap itu adalah teroris. Jadi, kami berharap Pemerintah Indonesia juga bertindak tegas," tuturnya.
Penggalangan dana tersebut akan dilakukan selama empat hari. Kemudian dana yang berhasil dikumpulkan akan diupayakan diserahkan langsung ke posko pengungsi Rohingya. (Ody)


Gubernur Aceh Desak Pusat Kucurkan Anggaran Pengungsi Rohingya

NEWSOBSERVASI: Gubernur Aceh Zaini Abdullah meminta Pemerintah Pusat untuk segera mencairkan anggaran bantuan pengungsi Rohingya di wilayahnya.
"Saya rasa, itu (anggaran) harus sesegera mungkin. Kalau enggak mana mungkin daerah sendiri. Ini besar dananya dan ini kami selalu jalin komunikasi," ujarnya, Selasa (26/5/2015).
Ribuan pengungsi Rohingya dan imigran gelap lainnya yang sempat tedampar di laut kini ditampung di Aceh Utara, Aceh Timur dan Langsa. Menurut Zaini, para pengungsitersebut tetap ditangani dengan baik oleh pemda.
Ia menambahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sudah mengutus Kementerian Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu Pemda Aceh. "Saya kira, Mensos sudah ada dana ini. Saya sudah enggak ingat berapa jumlahnya," tutur Zaini.
Ia juga tidak mengetahui detail program pemerintah pusat terkait sekolah bagi anak pengungsi Rohingya tersebut. "Saya enggak tahu, ini kan program pemerintah. Menurut Pak Wapres sudah ada perjanjian tiga negara antara Malaysia, Thailand dan Indonesia. Ya dimufakatkan apa-apa saja yang diurus," ucapnya. (okezone)

KOMPAK Dirikan Posko Bantu Pengungsi Rohingya

Aceh Utara,NEWSOBSERVASI: Komite Mahasiswa dan Pelajar Kutamakmur (KOMPAK) Kabupaten Aceh Utara, merasa prihatin dengan nasib pengungsi Imigran Myanmar yang saat ini ditempatkan tempat pengungsian di daerah Lapang kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara dengan total pengungsi berjumlah 600 orang lebih.


Presiden KOMPAK, Ns Munawir S.Kep dan Menteri Informasi dan Komunikasi (Menfokominfo) KOMPAK, Ody Yunanda dalam beberapa hari belakangan juga terus turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi Kesehatan Pengungsi. 

"Kita turun ke lapangan secara suka rela, tanpa ada yang menyuruh atau membiayai. Kita juga sudah tahu tentang masalah pengungsi Rohingya di Aceh. Nasib mereka sangat memprihatinkan," tandas Munawir di Sekretariat KOMPAK, Selasa (26/5/2015). 

Dari hasil pengamatan yang dilakukan pihaknya, pengungsi Rohingya di Aceh Utara sangat membutuhkan pakaian layak pakai (terutama untuk wanita), Popok Bayi, Pembalut Wanita. 

Disamping itu, mereka juga membutuhkan bantuan Mushaf Al-qur'an, bersama seperangkat alat Shalat. Kondisi pengungsi masih memprihatinkan dan membutuhkan banyak pertolongan. 

Sebanyak 15 orang Wanita Dewasa dalam keadaan Hamil muda dan Hamil tua, 90 orang Balita dengan popok yang jarang diganti, ada yang terkena TBC, dan terkena penyakit Kulit. 

Selain itu, terdapat dua anak usia remaja atas nama Hasan, dan Muhammad Syaf, yang disinyalir mampu menghafal Al-qur'an 30 Juz atau yang disebut dengan Hafizh. 

"Kami dari KOMPAK membuka posko penggalangan bantuan yang dibuka setiap hari kerja, yang bertempat di depan Meunasah Keude Blang Ara Kecamatan Kutamakmur. 

Bagi yang ingin menyalurkan bantuannya, silahkan menghubungi nomor 085260356011 (Ns. Munawir S.Kep / Presiden KOMPAK) atau 082213728334 (Mustakim / Sekretaris Jendral (Sekjen KOMPAK). 

Bahkan kita juga melayani sistim jemput ke tempat bagi yang ingin bantuannya dijemput", pungkas Munawir. (Ody)

Liputan Khusus NEWS OBSERVASI: Perjuangan Etnis Rohingya

Penulis NEWS OBSERVASI (Usmandani) bersama Muhammad Syarif (tengah), foto Minggu 24 mei 2015
I am Happy Stay Here, I Hope My Family Live in This CountryKata-kata ini mengingatkan saya pada seorang remaja Etnis Rohingya yang sekarang berada di tempat pengungsian di daerah Lapang kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara dengan total pengungsi berjumlah 600 orang. Dia begitu semangat menjalani hidup meski dalam keterbatasan. Namun, walau dalam keterbatasannya dia menggunakan pikirannya dalam segala hal. Hari itu saya berusaha menemui dia, namanya Muhammad Syarif yang merupakan mantan siswa teladan Academic student of Banglades lima tahun yang lalu, usianya sekarang baru memasuki 17 tahun dan bisa berbicara bahasa Internasional. Dalam ceritanya ada banyak hal yang menjadi ispirasi untuk tetap hidup dan mempertahankan apa yang dia anut.

Dia menceritakan mula kisahnya ketika di negerinya sendiri Myanmar, tepatnya di Burma yang merupakan minoritas Etnis Rohingya. “Islam begitu akur sesamanya. Tapi, tidak dengan agama lain”(ucapnya). Hampir setiap hari kegaduhan terjadi antar umat beragama (Hindu Vs Islam), bukan hanya sekadar perang mulut yang terjadi. Tetapi, perang antar hidup dan mati, semakin hari semakin memanas dan akhirnya kebanyakan Etnis Rohingya memilih meninggalkan daerah mereka dan mencari kehidupan di tempat lain, perjalanan mereka mencari kehidupan tidak semulus yang diharapkan, ada banyak ancaman yang datang, diantaranya adalah kelaparan, diterjang suara tembakan oleh militer pengaman laut, melawan badai di lautan ganas, dinginnya hembusan angin dikala malam tiba, hingga panasnya sengatan mentari ketika dimulainya pagi. Lima bulan menetap dalam kapal pesiar yang hanya muat 150 manusia dan terpaksa menjadi manusia perahu demi kelangsungan hidup. Semua dijalani dengan begitu terpaksa. Namun, tawa dan canda tidak terlepas dari mereka. “saya masih memiliki Ibu dan Ayah. Tapi, mereka tidak membiarkan saya terlindung, mereka tidak ikut dengan saya, karena kapal yang saya tumpangi tidak muat, mereka berjanji akan menyusul saya dilain waktu dan saya yakin mereka masih sehat di sana dan hidup di sana”(ujarnya). Tidak ada lagi senyuman ketika mengusik tentang Ibu dan Ayahnya, entah apa yang terjadi, saya tidak tega jika harus bertanya lebih dalam lagi.

Dia kembali menceritakan bahwa dalam kurun waktu lima bulan sudah 10 Etnis rohingya yang meninggal ketika masih terkatung di lautan, tujuh diantaranya adalah wanita dan lima pria, daftar tersebut membuat mereka berharap jangan sampai bertambah lagi karena kehilangan sanak sodara mereka adalah pukulan terberat dalam menjalani hidup di dunia yang luas ini. Mereka juga berharap agar pemerintah Indonesia khususnya bangsa Aceh dapat menerima mereka menetap lebih lama, bukan hanya satu atau dua tahun. Tapi lama dalam arti kata “ stay here, Life here”. (Uus)

Oleh    : USMANDANI
#Pengamat Sosial masyarakat Pedalaman.
Facebook        : Usmandani Alves



Twitter           : @usmandani1492

Ulama Aceh : Rohingnya Wajib Di Selamatkan

NEWSOBSERVASI: Ulama kharismatik Aceh, Tgk. H. Muhammad Amin atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Tumin Blang Bladeh, mengajak semua pihak untuk membantu warga Rohingya yang kini berada di Aceh semampu yang bisa dibantu.

“Mereka itu muslim, saudara kita seagama, sama halnya seperti tetangga kita disini, dimana kalau mereka lapar tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk memberi makanan,” kata Abu Tumin.

Demikian jawaban Abu Tumin ketika ditanya juangnews.com usai memberi pengajian rutin Majelis Taklim Ahlussunnah Waljama’ah Aceh (MATAWA) di masjid Baitul Huda Desa Cot Ieju, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Minggu, (17/5/2015) kemarin.

“Mereka wajib dibantu,” kata Abu Tumin sekali lagi, seakan ingin menegaskan.

Bahkan pada dasarnya, tambah Abu Tumin, jika ada yang menggangu, mengancam keselamatan umat Islam dimanapun dan kapanpun, sesama umat Islam harus melindungi.

Abu Tumin didampingi Tgk Jamaluddin serta sejumlah pengurus Matawa II menambahkan, keberadaan mereka di Aceh, untuk menyelamatkan diri.

Sebagaimana diketahui, keberadaan mislim Rohingya mendapat tekanan dari Pemerintah Myanmar dan penduduk mayoritas Budha yang  selama ini menzalimi mereka.

Abu Tumin berharap kepada Pemerintah setempat untuk menerima dan memberi pelayanan kepada pengungsi Rohingya, karena dikhawatirkan jika mereka dikembalikan ke negara asal, mereka terancam.

“Jangan ditolak (dipulangkan-red) ke negara asal, nyawa mereka terancam disana,” kata Abu Tumin. (acehinfo)

"Selamatkan Muslim Rohingya Sebagaimana Manusia Merdeka"


Jakarta,NEWSOBSERVASI: Ketua Komite Nasional Solidaritas Rohingya (KNSR) Suhelmaidi Syukur mengatakan jumlah pencari suaka asal Myanmar telah mencapai ribuan orang. 

Mereka semua berusaha mencari kehidupan yang lebih baik karena terpinggirkan di negara asalnya. 

"Kini para pencari suaka itu sudah ribuan orang, tidak perlu kita datangi, mereka sudah meminta tolong di sini. Masa kita akan halau lagi untuk menjemput kematian entah di dunia belahan mana," tutur Syuhelmaidi di kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT), Menara 165 lantai 11, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2015)

Suhelmaidi mengatakan misi KNSR adalah memperjuangkan diplomasi dan advokasi pencari suaka muslim Rohingya.

"Wajib kita selamatkan, bukan keselamatan sesaat, bentuk keselamatan selayaknya sebagai manusia merdeka," ungkap Suhelmaidi.

Presiden ACT Ahyudin mengatakan urusan Rohingya bukan sekedar memberi pangan, sandang, layanan medis, dan naungan hidup sesaat. Indonesia atau negara manapun tidak boleh merasa sudah menjadi negara baik dan negara manusiawi dengan sekadar melakukan itu.

"Negara-negara Asean seolah merasa tak terjadi apa-apa. Mereka melakukan transaksi bisnis bilateral, multilateral, namun menutup mata, (atas) ribuan jiwa hilang, merana, lari atau tewas kelaparan dan kesakitan di tengah laut," kata Ahyudin. (metrotv)

Derita Rohingya, Ditolak Malaysia Diselamatkan Nelayan Aceh

NEWSOBSERVASI: Ratusan bahkan ribuan pengungsi muslim Rohingya, termasuk wanita dan anak-anak, terombang-ambing di lautan. Mereka mencoba mencari pertolongan agar terhindar dari kekerasan di tanah kelahirannya.

Harapan untuk bebas dari penderitaan adalah mengungsi. Malaysia dan Thailand adalah negeri yang ramah dalam pikiran mereka.

Berbondong-bondong mereka menuju dua negara itu, menggunakan perahu seadanya. Tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa perbekalan yang memadai.

Mimpi mereka untuk mendapat perlindungan dan kebebasan harus pupus. Militer Malaysia dan Thailand menghadang perahu dan meminta mereka menjauh dari daratan negaranya.

Alhasil, mereka harus terkatung-katung di tengah lautan dan mulai kelaparan dan kehausan. Tidak sedikit dari mereka harus merenggang nyawa akibat tidak kuat menahan lapar dan dahaga.

Sedih, kecewa, putus asa menjadi hiasan mereka dalam melewati hari-hari. Selama seminggu lebih, mata mereka hanya melihat hamparan air Lautan Andaman.

Secercah harapan hidup kembali muncul ketika sejumlah nelayan Aceh menemukan mereka di tengah lautan. Para nelayan itu segera mendekat perahu para pengungsi, dan segera menyalurkan makanan.

Mereka lalu mengaitkan tali ke kapal para pengungsi itu. Tali terikat kuat, mesin menyala, dan kapal itu melaju menuju tanah harapan.

"Mereka mengarungi lautan selama beberapa hari, mungkin lebih, tanpa makanan maupun air. Kebanyakan mereka putus asa dan tertekan. Ada juga anak-anak yang masih sangat kecil," ujar Petugas Kantor Imigrasi Aceh Utara, Tegas, dikutip dari cnn.com, Rabu, 20 Mei 2015.

Para pengungsi tersebut ditampung beberapa penampungan dengan pasokan logistik memadai dari pemerintah daerah setempat. Tetapi, lambat laun penampungan kian sesak, menyusul datangnya para pengungsi secara berangsur-angsur.

"Kami lakukan yang terbaik yang kami bisa tapi pasokan kami juga terbatas dan ini menimbulkan ketegangan di antara mereka," ungkap Tegas.

Kelompok pengungsi pertama ditemukan berada dalam enam perahu di dekat Lhokseumawe. Tidak jauh dari lokasi tersebut, ada perahu yang memuat 400 orang berusaha mendekat ke pantai Aceh.

"Kami mengirim beberapa tim untuk mengevakuasi perahu tersebut," kata Kepala SAR Aceh Budiawan.

Para pengungsi tersebut hingga kini masih berada di Aceh. Mereka mengharap bantuan untuk bisa lepas dari tekanan. (dream)

Lagi, Nelayan Aceh Selamatkan Rohingnya


Aceh Timur,NEWSOBSERVASI: Kembali nelayan di Provinsi Aceh menyelamatkan imigran Rohingya di perairan Kabupaten Aceh Timur. Mereka ditemukan nelayan saat mengapungg di lautan, Rabu dinihari.

Diperkirakan jumlah imigran yang kembali ditemukan ini mencapai 400 jwa lebih yang terdiri dari anak-anak, wanita, remaja dan juga kaum pria dewasa. Para imigran itu terlihat lemah dan ada yang jatuh sakit.

Berdasarkan informasi dari warga setempat, perahu motor yang membawa imigrano ini dalam keadaan tidak berfungsi mesinnya sehingga harus ditarik dengan perahu motor kecil milik nelayan ke Kuala Geuleumpang, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur.

Salah seorang imigran yang bisa berbahasa Melayu Hasan Ali, kepada warga setempat mengungkapkan mereka sudah terdampar di lautan selama sekitar tiga bulan dengan perbekalan yang sangat tidak memadai. 

Mereka lari dari negaranya karena konflik rasial dan di tengah lautan mereka kehabisan bekal dan terombang-ambing selama tiga bulan sebelum akhirnya ditemukan nelayan Aceh saat di sekitar perairan Aceh dan kemudian  diselamatkan.

Sampai saat ini, berdasarkan informasi yang diterima, masih berlangsung proses evakuasi terhadap para imigran ini oleh nelayan Aceh di Aceh Timur.

Tahap awal sudah diselamatkan 30 jiwa yang didaratkan di Desa Simpang Lhee, Kecamatan Julok. Sebagian besar sisanya masih di dalam perahu dan sedang ditarik perahu motornya oleh tujuh perahu kecil milik nelayan setempat. 

Gelombang imigran di pantai utara dan timur Aceh juga ditolong oleh nelayan setempat. 

5 Mei lalu, 500 imigran dari etnis Rohingya dan Bangladesh diselamatkan di perairan Kecamatan Senuddon, Aceh Utara. Selanjutnya pada 10 Mei, kembali ditemukan 700 imigran oleh nelayan di Kuala Langsa, Kota Langsa.(antara)

Pencurian Ternak Kembali Marak di Kutamakmur

Aceh Utara,NEWSOBSERVASI: Aksi pencurian ternak kembali marak di Kemukiman Buloh Blang Ara Kecamatan Kutamakmur. Dalam waktu semalam, kawanan pelaku pencuri berhasil menggasak ratusan ekor kambing di Desa Cempeudak, Rabu (20/05).

Informasi dihimpun wartawan, dari korban kehilangan, Nurkaffah (35) menyebutkan, di rumahnya ia memiliki ratusan ternak kambing yang dipeliharakannya. Namun, saat hendak memberikan makanan pada pagi hari ia melihat kandang kambing miliknya sudah kosong.

“kambing saya kemungkinan di curi pada tengah malam dan pelakunya menggunakan mobil yang di parkirkan jauh dari lokasi”, ujarnya.


Pencurian ternak di desa cempeudak Kecamatan Kutamakmur Kabupaten Aceh utara bukan kali ini saja terjadi, minggu yang lalu Kambing milik Abdul Halim (40) pun ikut jadi korban. (Ody)

TNI melarang nelayan Aceh membawa pengungsi Rohingya ke wilayah RI

Aceh Utara,NEWSOBSERVASI: Para nelayan yang beroperasi di wilayah Aceh dilarang menjemput dan membawa etnis Rohingya yang terjebak di laut ke wilayah Indonesia, kecuali kapal yang ditumpangi para imigran itu tenggelam, demikian juru bicara TNI.
"Jangan sampai ada nelayan kita menjemput mereka (kaum Rohingya) ke luar batas laut kita, kemudian keluar dari kapal dan masuk perahu nelayan, dan masuk wilayah kita. Itu yang kita larang," kata juru bicara TNI Fuad Basya kepada wartawan, Senin (18/05) siang.
Sebelumnya, sejumlah nelayan asal Aceh yang mengatakan bahwa mereka dilarang untuk menjemput dan membawa imigran gelap asal Myanmar dan Bangladesh.
Kepada wartawan, dua nelayan Aceh mengaku, mereka dilarang menyelamatkan para pengungsi Rohingya dari laut, "bahkan jika kapal mereka tenggelam sekalipun."
Fuad Basya membantahnya. Dikatakannya TNI tidak melarang upaya penyelamatan ke darat apabila "kapalnya tenggelam atau mereka terapung-apung di laut dan tidak ada kapalnya."
Fuad Basya mengatakan, orang asing yang masuk wilayah daratan Indonesia harus menggunakan dokumen resmi.
"TNI mempunyai kewajiban menjaga kedaulatan wilayah Indonesia, termasuk di laut," katanya.
TNI sejauh ini memperketat patroli di kawasan laut di Sumatera untuk mencegah kedatangan imigran gelap.

Terpanggil untuk membantu

Sebelumnya, sejumlah nelayan Aceh mengatakan, mereka merasa terpanggil untuk membantu para pengungsi yang sebagian adalah etnis Rohingya dari Myanmar.
“Kami mendengarkan teriakan Allahu Akbar dan sebagian laki-laki terjun ke laut, untuk mencapai kapal kami,” jelas Ar Rahman, salah seorang nelayan, kepada wartawan.
Ar Rahman mengatakan, ratusan pengungsi Rohingya itu berada di kapal yang oleng ketika dia dan nelayan lainnya mencapai lokasi setelah menerima informasi dari radio komunikasi antar pelaut.
Pekan lalu, sekitar 700 orang pengungsi asal Myanmar dan Bangladesh ditolong oleh nelayan di Aceh Utara, dan membawanya ke daratan.
salah seseorang sesepuh nelayan Aceh -yang dijuluki Panglima Laut- Yahya Hanafiah mengatakan, dirinya telah meminta para nelayan Aceh untuk menyelamatkan para pengungsi yang terdampar di laut.
“Kami meminta nelayan di Aceh untuk menyelamatkan mereka demi kamanusiaan, karena 'kan kita hidup berputar, nanti siapa tahu kita yang membutuhkan,” jelas Yahya.
Ratusan pengungsi yang ditempatkan di gudang Pelabuhan Kuala Langsa Aceh ini berasal dari kapal yang terombang ambing di laut, setelah ditolak masuk ke Indonesia dan Malaysia oleh Angkatan Laut kedua negara. (bbc)

This is my Story

By: Usmandani/nurulfikiani.wordpress.com
Hari itu langit begitu cerah, sang surya menghantarkan panasnya hingga tatapan silau seketika. Melihat kearah belakang yang hanya ada buih-buih ganas yang sedang riuh, rasanya ingin merebahkan diri sejenak agar  fikiran tenang tanpa beban. Tapi, mata tidak sanggup terpejam karna kegaduhan perasaan akibat masalah yang sedang melanda. Ku ambilkan selembar kertas dan ku tuliskan pertanyaanku tentang bebanku, tentang perasaanku. Semua ku coba uraikan dengan kalimat yang mudah difahami.
Message : “kenapa hidup terkadang tidak adil, orang sering berkata kalau aku tidak akan mampu melakukan segalanya dengan sendiri, kenapa orang sering meremehkan aku , kenapa aku seperti tidak dihargai, kenapa dan kenapa..?”. 
Seteelah itu tanpa sadar aku terlelap dengan hanya memegang kertas dan pena hitam. Tudurku mungkin begitu lelap hingga aku tidak menyadari apa yang terjadi. Ketika aku terbangun dari tidur lelapku terlihat tulisanku sangat berbeda dan bahkan bertambah, aku mencoba membacanya dan isi setelah tulisan aku.
Message :”sebenarnya hidup ini bukan tidak adil, Cuma Tuhan hanya ingin melihat kamu sejauh mana kamu sanggup bersyukur, jika orang serin g berkata kalu kamu tidak mampu melakukan segalanya dengan sendiri itu memang benar adanya, semua manusia di dunia ini butuh teman butuh bantuan. Tapi, jika kamu sering diremehkan, itu merubakan kekuatan untuk kamu membuktikan kalau kamu tidak akan seperti sekarang ini terus menerus, kamu akan bangkit , dan kebangkitan kamu diawali dengan kamu harus memulai menghargai dan yakinlah orangpun akan menghargaimu.
This is my story, bukan rekayasa atau hanya sekedar tulisan, sebulan kemudian barulah aku tahu bahwa balasan pesan waktu itu adalah pesan dari sahabat karibku. Tahukah kalian apa yang menarik dan kenapa aku menulis ini. Karena, pesan balasan dari sang kawan sangat menyentuh perasaanku, dia dating tanpa diundang, tapi dia dating dengan memberikan semangat baru dalam perjalanan hidupku. (D)

Best friend, this story from date 17-5-2011.
Penulis :USMANDANI/uus productions


Komite Mahasiswa dan Pelajar Kutamakmur Peringati Isra’ dan Mi’raj

Aceh Utara,NEWSOBSERVASI: Komite Mahasiswa dan Pelajar Kutamakmur (KOMPAK) sukses memperingati Isra’ dan Mi’raj nabi Muhammad SAW tahun 1436 Hijryah pada rabu malam, (13/05). Acara yang digelar di lapangan bola kaki Keude Buloh Blang Ara itu berlangsung sangat meriah.

Turut hadir dalam acara tersebut wakil ketua komisi C DPRK Aceh utara, Arafat,  Camat Kecamatan Kutamakmur, T Syamsul Fajri S.sos dan para tokoh  dan seluruh unsur muspika kecamatan setempat. Sedangkan yang menjadi penceramah dalam kegiatan tersebut adalah Ustaz Noval Azedawakkal asal kota Lhokseumawe.

Ketua Panitia pelaksana, Ikhlasul Amar dalam kata – kata sambutannya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung hingga suksesnya acara tersebut.

Sedangkan Camat Kecamatan Kutamakmur T. Syamsul Fajri S.sos mengingatkan kepada para pemuda untuk menjauhi narkoba. Karena, kata Syamsul tidak ada orang yang hidup bahagia dengan narkoba.

Wakil ketua Komisi C DPRK Aceh utara sendiri, Arafat sangat mengapresiasi kinerja dari rekan rekan KOMPAK. Ia mengatakan, persatuan Pelajar dan Mahasiswa di Kutamakmur sudah sangat utuh, hingga baru kali ini Pelajar dan Mahasiswa bisa mengadakan acara sedemikian rupa.

“saya sangat mendukung langkah dari anak – anak KOMPAK, apalagi selama ini KOMPAK telah menunjukkan citranya sebagai Organisasi yang bermartabat.” Ungkap Arafat.

Sedangkan Presiden KOMPAK, Ns. Munawir S.Kep mengatakan bahwa pihaknya akan terus menerus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Kutamakmur.

Di dalam tausiyahnya Ustaz Noval mengatakan bahwa isra’ Mi'raj mengingatkan kita untuk mensyukuri nikmat dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT yang mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang menjadi pedoman bagi umat manusia dalam melaksanakan dimensi Khablumminallah dan Khablumminannas

Selain itu, peringatan Isra’ Mi’raj ini mengingatkan kita untuk mawas diri, sejauh mana kita telah mengaktualisasikan ajaran agama yang diwahyukan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, tambahnya.

Melalui pemahaman tentang sikap hidup dan ketauladanan Rosulullah, kita hendaknya tergugah untuk berani memerangi sikap dan perilaku yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Acara tersebut di iringi dengan pemutaran Film Dokumentasi KOMPAK dan penampilan Syarhil Qur’an Aneuk KOMPAK. (ODY)

Tak Diizinkan Kibarkan Bendera, Anggota DPR Aceh Lilitkan 'Bulan Bintang' ke Leher Sekwan


BandaAceh,NEWSOBSERVASI: Ketua Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Abdullah Saleh melilitkan bendera bulan bintang pada leher Sekretariat Dewan (Sekwan) Hamid Zain. Penyebabnya gara-gara Hamid melarang Abdullah Saleh mengibarkan bendera tersebut di depan gedung DPRA.

Pantauan media, awalnya Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Safaruddin menyerahkan selembar bendera bulan bintang pada Abdullah untuk dikibarkan pada tiang di depan DPRA, Senin (4/5/2015). Bendera yang pernah dipakai GAM saat Aceh konflik dulu itu sudah disahkan oleh DPRA menjadi bendera Aceh. Namun Mendagri hingga kini masih meminta agar bendera diubah.

Di depan DPRA ada dua tiang bendera yang dibangun beberapa waktu lalu. Satu tiang digunakan untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan satu tiang lagi rencananya akan digunakan untuk menaikkan bendera bulan bintang.

Sebelum bendera dikibarkan, beberapa orang di sana sudah menaruh tangga dekat tiang karena tali yang biasa digunakan untuk menaikkan bendera agak tinggi. Abdullah Saleh berada di lokasi untuk ikut mengibarkan bendera yang diserahkan ketua YARA itu.

Namun tak lama kemudian keluar Sekwan Hamid Zain. Ia melarang Abdullah Saleh dan Safaruddin untuk mengibarkan bendera di tiang sebelah bendera merah putih. Alasannya, bendera tersebut belum disahkan oleh Mendagri menjadi bendera Aceh.

"Bendera ini kami terima tapi jangan dikibarkan dulu. Di sini semua tanggung jawab saya termasuk pengibaran bendera. Jadi bendera ini kami terima dan kami simpan dulu," kata Hamid setelah berdebat dengan Abdullah Saleh dan Safaruddin.

Abdullah Saleh kesal dengan pernyataan tersebut sehingga ia melilitkan bendera yang ada di tangannya pada leher Sekwan. "Karena di sini menjadi tanggung jawab Anda, ini saya serahkan pada Anda," kata Abdullah Saleh sambil melilitkan bendera tersebut.

Hamid Zain terlihat tidak terima dengan aksi anggota dewan tersebut. Ia kemudian diamankan oleh beberapa orang ke dalam ruang DPR. Abdullah Saleh berusaha mengejar untuk menyerahkan bendera tersebut. Namun karena tidak berhasil, bendera yang masih menjadi kontroversi itu kemudian diletakkan di ruang ketua DPRA, Muharuddin.

"Sudah saya taruh di ruang Ketua DPRA karena tadi ketuanya tidak ada," kata Abdullah Saleh kepada wartawan. (detik)